Kamis, 16 Februari 2012
Merindukan Ayah Dan Ibu
Merindukan Ayah Dan Ibu By: HANIF ABDUL HAFIZH "Saya merindukan ayah dan ibu..Mas," tutur
seorang gadis di Rumah Amalia. Ia
bercerita kebahagiaan di dalam hidupnya
memiliki orang tua yang sangat perhatian
adalah dambaan setiap orang di masa
kanak-kanak. Ia merasa beruntung karena memiliki ayah dan ibu yang sangat
mencintai dirinya. Bahkan ayah dan ibu
sangat memanjakannya, barang yang
diinginkannya sebisa mungkin ayah dan ibu
mengabulkan. Begitu besar cinta dan
perhatian mereka sehingga tidak pernah menyangka ternata ia hanyalah anak
adopsi. Kenyataan itu membuat hatinya
terluka perih, menyayat hatinya yang paling
dalam. Ia menjadi minder dan menarik diri
dari pergaulan. Ayah dan Ibunya selalu
menghibur dan menyakinkannya, kalau setatus itu tidak akan mengubah kasih
sayang mereka. Meski sulit namun akhirnya
ia berusaha untuk menerima kenyataan
hidup ini. Badai kehidupan itu datang
menghempas, sebulan kemudian ayahnya
meninggal karena sakit ginjal dan tidak lama kemudian ibunya yang sangat dicintainya
menyusul meninggalkan dirinya untuk
selamanya. Kepergian ayah dan ibunya tidak membuat
penderitaannya berakhir, seminggu ibu
meninggal, paman dan tante dari ayah
mendatangi rumahnya. Mereka
membicarakan harta peninggalan ayah
dan ibu, "Rumah peninggalan ayah dan ibumu adalah hak kami, kamu tidak memiliki
hak sama sekali atas rumah ini. Jadi, kami
minta dalam seminggu ini tinggalkan rumah
ini karena akan langsung dijual." ujar tante.
Ucapan itu membuat ia terhenyak, tak
terasa ia menjerit, air matanya meleleh. "Kalau rumah ini dijual, aku harus tinggal
dimana?" Paman menjawab tanpa
perasaan bersalah sedikitpun. "Ya, terserah
kamu, mau tinggal dimana. itu bukan
urusan kami." Ia tidak bisa mengatakan
apapun. Hatinya terasa pedih, tubuhnya lemah tak berdaya. Menangis tersedu-sedu.
Paman dan tantenya pergi meninggal
dirinya begitu saja. Keesokan harinya tanpa
harus menunggu seminggu, ia sudah
meninggalkan rumah. Kesedihan terasa
begitu menyakitkan karena begitu banyak kenangan manis di rumah itu. Ia hanya
membawa album berisi poto-poto dengan
ayah dan ibunya serta baju secukupnya.
Pergi ke rumah teman karibnya. Untunglah
semua cobaan itu bisa dilaluinya. Keyakinan
bahwa semua itu adalah kehendak Allah yang harus dilaluinya membuat dirinya
menjadi kuat dan sabar. Ibadah sholat
fardhu tidak pernah ditinggalkan,
memanjatkan doa kepada Allah untuk ayah
dan ibu. Sampai kemudian mendapatkan
pekerjaan dan sekarang sudah bisa mengontrak rumah sendiri. Subhanallah. Wassalam,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
semoga bermanfaat
BalasHapus